Langsung ke konten utama

JANGAN JADIKAN BULLYING SEBAGAI BUDAYA

Sumber:https://www.google.co.id/searchq=bullying+di+indonesia&dcr=0&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwijmpnFofDXAhXGuo8KHfWvDeQQ_AUICygC&biw=1517&bih=735#imgrc=Cbc8Vj7_8vb46M:
Kekerasan merupakan suatu hal yang paling banyak ditakuti oleh manusia. Baik kekerasan langsung maupun tidak langsung, baik kekerasan verbal maupun non verbal. Bentuk kekerasan yang paling sering terjadi di sekolah adalah bullying. Di seluruh dunia, fenomena bullying merupakan suatu hal yang umum di sekolah dasar maupun menengah padahal sesuai dengan Piagam Hak Asasi Anak-Anak PBB, siswa memiliki hak untuk merasa aman dan untuk memperoleh pendidikan. Fenomena ini muncul dalam interaksi sosial di antara teman sebaya. Anak-anak (khususnya pada masa kanak akhir) dan remaja menghabiskan waktu minimal 6 jam sehari di sekolah sehingga interaksi dengan teman sebaya serta guru menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari mereka.

Penelitian yang dilakukan di berbagai negara menunjukkan bahwa 8 hingga 38 persen siswa menjadi korban bully. Di indonesia sendiri, hasil penelitian tahun 2010 terhadap sekiatar 1.200 orang pelajar di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya menunjukkan angka kejadian bullying di SMA sebesar 67,9 persen dan SMP sebesar 66,1 persen. Perilaku ini kurang mendapat perhatian, bahkan ada pihak-pihak yang tidak menganggapnya sebagai hal yang serius. Padahal menurut beberapa peneliti (dalam Veenstra et al, 2005) bullying menimbulkan ancaman serius terhadap perkembangan yang sehat selama masa sekolah. Pelaku bullying (disebut Bully) berisiko tinggi terlibat dalam kenakalan remaja, kriminalitas dan penyalahgunaan alkohol. Konsekuensi negatif dalam jangka panjang juga terjadi pada korban bullying (disebut Victim) di mana secara umum korban berisiko tinggi mengalami depresi dan harga diri yang rendah saat masa dewasa. Bullying di antara anak-anak dan remaja merupakan masalah penting yang mempengaruhi kesejahteraan dan fungsi psikososial.
Perilaku Bullying itu sendiri merupakan bentuk-bentuk perilaku di mana terjadi pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik, verbal maupun psikologis oleh seseorang atau sekelompok orang yang lebih “kuat” terhadap seseorang atau sekelompok orang yang lebih “lemah”, dan dilakukan dalam sebuah kelompok misalnya siswa satu sekolah. Tindakan bullying biasanya lebih sering terjadi karena adanya rasa senioritas kakak kelas kepada adik kelasnya. Selain itu juga terdapat faktor yang berpengaruh terhadap munculnya sikap bullying :
  1. Faktor Keluarga, Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap orang tua yang terlalu berlebihan dalam melindungi anaknya, membuat mereka rentan terkena bullying. Pola hidup orang tua yang berantakan, terjadinya perceraian orang tua, orang tua yang tidak stabil perasaan dan pikirannya, orang tua yang saling mencaci maki, menghina, bertengkar dihadapan anak-anaknya, bermusuhan dan tidak pernah akur, memicu terjadinya depresi dan stress bagi anak. Seorang remaja yang tumbuh dalam keluarga yang menerapkan pola komunikasi negatif seperti sarcasm (sindirian tajam) akan cenderung meniru kebiasaan tersebut dalam kesehariannya.
  2. Faktor Sekolah, kecenderungan pihak sekolah yang sering mengabaikan keberadaan bullying menjadikan siswa yang menjadi pelaku bullying semakin mendapatkan penguatan terhadap perilaku tersebut. Selain itu, bullying dapat terjadi di sekolah jika pengawasan dan bimbingan etika dari para guru rendah, sekolah dengan kedisiplinan yang sangat kaku, bimbingan yang tidak layak dan peraturan yang tidak konsisten. Dalam penelitian oleh Adair, 79% kasus bullying di sekolah tidak dilaporkan ke guru atau orang tua. Siswa cenderung untuk menutup-nutupi hal ini dan menyelesaikannya dengan teman sepermainannya di sekolah untuk mencerminkan kemandirian.
  3. Faktor Teman sebaya, kelompok teman sebaya (genk) yang memiliki masalah di sekolah akan memberikan dampak yang buruk bagi teman-teman lainnya seperti berperilaku dan berkata kasar terhadap guru atau sesama teman dan membolos. Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong utnuk melakukan bullying. Beberapa anak melakukan bullying hanya untuk membuktikan kepada teman sebayanya agar diterima dalam kelompok tersebut, walaupun sebenarnya mereka tidak nyaman melakukan hal tersebut.

Sumber: https://www.google.co.id/searchq=bullying+di+indonesia&dcr=0&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjJm9rXyvHXAhVLgI8KHS2uCzgQ_AUICygC&biw=1517&bih=735#imgrc=LCO9etr-gWnLzM:
Saya teramat prihatin dengan keadaan tersebut. Jika kejadian bullying terus menerus terjadi akan sangat berdampak buruk bagi perkembangan moral anak-anak bangsa. seharusnya anak-anak di usia remaja seperti para pelaku dan korban bullying di atas diberikan perhatian yang ekstra karena di usia inilah para remaja rentan terhadap hal-hal yang berbau negatif. Kemudian, faktor teman sebaya sebagai penyebab bullying juga memiliki andil yang cukup besar dalam kasus ini, karena sebagian besar waktu yang dimiliki remaja ini adalah untuk berinteraksi dengan teman sebayanya, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah. Intensitas komunikasi antar teman sebaya yang berlebih inilah yang memungkinkan munculnya hasrat ingin menindas atau melakukan bullying atas hasutan teman-temannya.
Oleh karena itu saya membuka kesempatan anda untuk memberikan solusi-solusi yang mungkin dapat berguna untuk mengurangi rasa depresi ataupun trauma pada remaja-remaja yang menjadi korban-korban bullying di sekolah, maupun lingkungan sekitar. Selamatkan moral bangsa kita dan cegahlah angka kriminalitas yang makin hari makin meningkat !!!
Bagi anda yang ingin berkonsultasi bisa langsung datang ke “RUMAH DAMAI MELIA” yang berada di Jl. MT.Haryono, No.34B, Semarang, Tlp. (021) 776654321, email: meliaafita25@gmail.com, atau dapat mengunjungi web: meliaconsultation.blogspot.co.id
RUMAH DAMAI MELIA
Buka pada :
Senin-Kamis    : 09.00-14.00
Jumat-Sabtu     : 09.00-11.00

Sumber Referensi: Edupost.(2015).Riset ICRW: 84 persen Anak Indonesia Alami Kekerasan di Sekolah.(http:edupost.id/berita-pendidikan/riseticrw-84-persen-anak-indonesia-alamikekerasan-di sekolah)
Qommarria Rostanti.(2015).KPAI: Kasus Bullying di Sekolah Meningkat Selama 2015 (http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/12/30/o067zt280-kpai-kasus-bullying-di sekolahmeningkat-selama-2015)

Komentar