Oleh : Melia Nur Afita
M
|
enyiapkan dana untuk masa depan tentunya perlu
dilakukan sedari awal. Itu artinya, sejak Anda memiliki penghasilan sendiri
maka pengaturan keuangan juga harus dimulai. Mulai dari menabung hingga
menempatkan dana di instrumen investasi, menjadi pilihan yang tepat dalam
merancang finansial yang lebih baik untuk masa yang akan datang. Ada banyak
instrumen investasi yang bisa dipilih salah satunya adalah investasi saham,
emas, dan Reksa dana.
Saham, Surat Tanda Kepemilikan seseorang atas suatu
perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan membeli saham, maka kita memiliki
hak klaim atas pendapatan dan aset perusahaan, serta berhak hadir dalam Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS). Investasi saham sebenarnya relatif sangat mudah dan
praktis dalam proses transaksinya bila dibandingkan dengan instrumen–instrumen
investasi lainnya. Dengan investasi saham, maka anda tidak perlu membawa
selembar sertifikat atau lainnya dalam proses jual–beli. Nah, jika ingin melakukan
investasi, yang menjadi pertanyaan adalah berapa jumlah dana yang harus
dimiliki ?
Anda tetap bisa berinvestasi saham hanya dengan
modal kecil sekalipun. Saat ini, hanya dengan modal Rp 100.000,- saja, anda
dapat membeli beberapa slot saham. Bahkan, bagi yang tidak memiliki modal
cukup, sekarang sudah terdapat penawaran pembelian saham dengan cara dicicil. Selain
tidak membutuhkan modal yang besar dan transaksi yang mudah, investasi saham
sangat fleksibel, yakni dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Dapat
dikatakan, Anda masih dapat berinvestasi namun tidak mengganggu kegiatan utama
anda. Sebab, membeli saham tidak mengharuskan anda untuk datang langsung ke
bursa saham.
Keuntungan lain dari investasi di saham adalah anda
bisa menjalankan transaksi ini secara aman dan nyaman. Bagaimana tidak? karena
investasi di sektor pasar modal berada dibawah pengawasan pihak otoritas jasa
keuangan (OJK). Artinya, investasi saham bersifat legal atau sah secara umum.
Emas, Investasi yang satu ini banyak digemari karena
investasi ini cenderung memberikan kepastian harga yang akan naik. Emas menjadi
alat investasi yang tak terpengaruh inflasi dan aman dari guncangan ekonomi. Emas
dikatakan sebagai instrumen investasi favorit, setelah di tahun 2017 kenaikan
harga emas mencapai 25,75%. Pertumbuhan tersebut tergolong lebih tinggi jika
dibandingkan dengan instrumen investasi yang lain seperti saham, obligasi, ETF
dan Reksa dana. Dengan kecenderungan nilainya yang meningkat dari tahun ke
tahun, maka emas sangat cocok bila disebut sebagai investasi yang mampu
melindungi nilai kekayaan seseorang. Hal tersebut dapat dicerminkan dari
harganya yang selalu stabil dan ketika dijual kembali, pemilik cenderung
mendapatkan hasil balik yang lebih tinggi.
Reksa Dana, Sebuah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun
dana dari masyarakat yang selanjutnya dana tersebut akan diinvestasikan pada
portofolio Efek oleh Manajer investasi. Pada umumnya, masyarakat maupun
investor lebih banyak melakukan investasi emas daripada reksa dana. Meski reksa
dana kalah populer dibandingkan dengan investasi emas, sebenarnya reksa dana
memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan emas. Didalam investasi reksa
dana ini modal yang dibutuhkan tidaklah banyak, sama halnya dengan investasi
saham pada investasi reksa dana modal yang dibutuhkan dapat dimulai dari Rp.
50.000,- saja. Keringanan modal inilah yang menjadi salah satu kelebihan
tersendiri bagi reksa dana dibandingkan dengan instrumen lainnya yang
mengharuskan investor untuk mengeluarkan modal yang besar.
BERMAIN SAHAM
KELAS TERI, TRADER MUDA SULAP RP18 JUTA MENJADI BELASAN MILIAR
Monexnews - Keinginan untuk bisa meraup return besar tidak
hanya bisa diwujudkan dengan menanamkan modal pada saham-saham high-profile.
Seorang pemuda di Amerika Serikat membuktikan dirinya mampu memperoleh hasil
investasi besar meski hanya bermain di saham-saham kelas teri. Sekitar tiga
tahun lalu, anak muda bernama Tim Grittani mengawali trading bermodalkan
tabungan $1500 atau kurang dari Rp18 juta. Namun kini asetnya bertambah besar
hingga mencapai lebih dari $1 juta (Rp12 miliar) hanya dengan penempatan modal
di saham-saham perusahaan kecil yang harga belinya kala itu di bawah $1 per
unit. Grittani mengakui bahwa strategi investasinya itu cukup berisiko
ketimbang jika ia menaruh uang pada saham-saham kelas berat seperti Apple atau
Google. "Saya terus trading setiap hari selama tiga tahun. Prosesnya
sangat lambat dari hari ke hari," ujarnya kepada CNN. Ia menghabiskan
waktu sepanjang hari di depan komputer untuk memantau harga, termasuk mengambil
posisi beli dan jual pada waktu yang dianggapnya tepat. Terkadang Grittani
mengambil posisi masuk dan keluar dalam hitungan menit, dan posisi terlama yang
ia pegang hanyalah beberapa hari. Strategi untuk bermain di saham-saham murah
atau lazim disebut 'penny stocks' memang berbeda dibandingkan transaksi pada
saham blue chips. Pihak Securities and Exchange Commission sendiri sudah
mewanti-wanti investor tentang karakteristik saham kelas teri, yang berpotensi
menimbulkan kerugian besar dalam waktu singkat. Penny stocks kerap dijadikan
sasaran spekulan karena volume perdagangannya rendah dan lebih sering
dipindahtangankan di luar bursa (over the counter). Lebih dari itu, saham-saham
kelas teri seringkali 'digoreng' oleh investor dan scammer dengan cara
mempromosikannya di media blog, sosial media maupun email. Spekulan-spekulan
ini berupaya menggiring opini investor terhadap prospek harga suatu saham.
Mereka biasanya sudah memiliki banyak saham jenis ini sebelum melempar rumor ke
pasar, sehingga pada saat harga jualnya naik di tengah aksi beli, mereka tinggal
menjualnya untuk meraup laba besar. Sementara investor kecil yang terbawa arus
pemberitaan tadi terpaksa menerima kerugian dalam jumlah yang biasanya juga
tidak sedikit. Grittani bukanlah pihak yang ikut menggoreng harga saham karena
modalnya sendiri tidak bsia dibilang besar. Namun ia terus mempelajari
karakteristik pergerakan saham dan rumor yang beredar di dunia maya sehingga
dirinya mampu mengidentifikasi kapan waktu yang tepat untuk jual ataupun beli.
Salah satu contohnya adalah awal pekan ini, di mana ia mulai melihat saham
(over the counter) perusahaan kecil bernama Nutranomics sudah mulai jenuh
karena naik tiga kali lipat hanya dalam sebulan akibat aksi scammer. Hari Senin
kemarin Grittani melihat saham Nutanomics mulai kehilangan momentum, dan
koreksi tinggal menunggu waktu. Perkiraannya terbukti akurat karena saham itu
anjlok nyaris 60% hanya dalam 23 menit. Walaupun tidak meraup laba sebesar
rasio penurunan itu, ia masih mampu mengantongi $8000 dari penjualan saham
dalam hitungan 10 menit. Strategi yang diambil oleh Tim Grittani dilakukannya
setiap hari, dan pernah juga menimbulkan kerugian. Pemuda yang baru genap
berusia 24 tahun ini mengawali trading dengan mamakai sedikit uang. "Saya
mulai dengan membuka account $500 untuk coba-coba," imbuhnya. Namun karena
minim pengalaman, ia kehilangan separuh modalnya hanya dalam beberapa pekan.
Untuk mencari 'bantuan' dari luar, ia kemudian mencari informasi di internet
dan menemukan cerita tentang Tim Sykes, seorang trader saham yang sukses dari
investasi pada saham murah. Ia kemudian mencoba menerapkan ilmu yang didapatnya
dengan mulai mengincar saham yang justru sering dianggap sebagai 'saham
gorengan'. Pada suatu waktu, Grittani menerima email yang menyebut kalau saham
perusahaan bernama Amwest Imaging akan menguat dalam waktu dekat. Ia tahu benar
kalau email yang diterimanya adalah scam, namun bukannya menjauh Grittani
justru membeli saham Amwest senilai $3000. Ia kemudian menghabiskan waktu untuk
memantau kapan waktu penurunan harga saham itu. Ketika melihat saham telah
jenuh dan koreksi suda di depan mata, Grittani langsung menjual untuk
membukukan laba 70% atau sekitar $2000. "Itulah karakteristik saham kelas
teri. Kuncinya adalah membeli sebelum banyak investor lain melakukannya,"
kata lelaki yang asetnya sudah membengkak lebih dari $1 juta ini. Tim Grittani
dan Tim Sykes sempat bertemu dalam sebuah sesi wawancara. Guru dan murid ini
sepakat mengatakan kalau trading pada saham-saham murah tidak bisa
dikategorikan sebagai investasi jangka panjang. Mereka menyarankan orang-orang
yang ingin mencoba cara ini untuk hanya menanamkan sebagian kecil uang.
"Saya rasa ini cocok bagi mereka yang suka berjudi. Karena seperti di
kasino, saham-saham murah ini juga mempunyai pola pergerakan tertentu yang bisa
diidentifikasi," ucap Sykes kepada CNN. Sementara Tim Grittani mengakui
rekor imbal hasil tertingginya dalam satu hari adalah sebesar $215.000 atau
lebih dari Rp2.5 miliar. Keuntungan itu didapatnya dari kombinasi penempatan
posisi jual dan beli pada saham raksasa keuangan, Fannie Mae. "Saya ingin
pendapatan bersih saya bisa melampaui $1 juta dalam satu atau dua tahun ke
depan," kata Grittani. Sementara untuk saat ini, ia mengklaim personal
net-nya baru di kisaran $650.000.
Sumber : https://monexnews.com/world-economy/bermain-saham-kelas-teri-trader-muda-sulap-rp18-juta-menjadi-belasan-miliar.htm

Komentar
Posting Komentar